Visitors :198442 Org Hits : 607152 hits Month : 2979 Users Today : 173 Users Online : 3 Users
|
LANGKA - Salah seorang pedagang pengecer gas elpiji 3 Kg di Kramatsari, Tarozi sedang menunjukkan stok barangnya yang telah habis hanya dalam waktu singkat.
*) Pertamina Hanya Distribusi 50%
KRAMATSARI – Saat ini gas elpiji 3 Kilo langka di pasaran. Imbasnya, harga gas di tingkat agen maupun pengecer mulai naik antara Rp 500 hingga Rp 1.000.
Salah seorang pedagang pengecer elpiji di Kramatsari, Tarozi mengatakan setiap hari mendapat stok dari agen sebanyak 100 tabung dari agen yang selalu habis dengan sangat cepat, hanya dalam hitungan jam saja.
Padahal pada hari-hari biasanya, stok gas elpiji 3 Kg yang dipunyainya baru habis selama satu hari. Barang dagangan tersebut dibagi-bagikan ke para pedagang lain yang merupakan langganannya dan para pembeli eceran lainnya.
"Setiap hari saya mendapat 100 tabung yang dijual ke pedagang pengecer kecil seperti warung-warung. Namun, saya selalu menyisakan 25 tabung untuk tetangga dan masyarakat sekitar Kramatsari yang membeli secara mengecer atau konsumen rumahan," bebernya.
Kelangkaan gas elpiji 3 Kg ini dapat diketahui oleh Tarozi karena adanya berbagai konsumen yang datang dari luar daerah sekitar Kramatsari seperti dari Pasirsari, Tirto, Kraton dan bahkan dari Panjang.
"Beberapa hari ini banyak konsumen dari luar Kramatsari berdatangan. Bahkan sekarang, kami harus sering menolak pembeli karena stok barang telah habis," katanya.
Stok setiap hari yang didapat Tarozi berasal dari agen Oktarina. Tadinya Rp 12.600 namun saat ini naik jadi Rp 12.800.
Kemudian harga tersebut dijual dengan keuntungan Rp 500 hingga Rp 600 menjadi sekitar Rp 13.300/tabung untuk pengecer dan untuk pembelian pertabung atau rumahan harganya Rp 14.000 hingga Rp 14.500. "Kami juga terpaksa menaikkan harga jual karena harga di agen mengalami kenaikan," imbuhnya.
Tarozi senidir mengaku belum pernah ada tambahan stok dari agen kecuali pada waktu musim banjir. Tempatnya diberi tambahan stok karena di tempat lain tidak laku.
"Walaupun terjadi kelangkaan namun kami belum berniat menambah stok. Lagipula hal tersebut sepertinya sangat tidak mungkin dilakukan karena tempat lain saja masih ada yang kekurangan," ungkapnya.
60 PERSEN
Kelangkaan tabung ini rupanya memang merata. Salah satu agen kecil yang awalnya mendapat jatah 100 tabung per hari, kini berkurang hanya 60 tabung saja. Hal ini disampaikan oleh salah satu agen di daerah Medono, Nur Laila.
Pihaknya menuturkan, kelangkaan gas mulai satu minggu yang lalu. "Pasokan kami sekarang dibatasi dari agen besarnya. Sehingga stok kami pun tak banyak. Hari ini saja kami mendapat jatah 60 tabung," tuturnya.
Kurangnya pasokan gas ini membuat pelanggan yang biasa mendapat gas dari agennya sering datang ke tempatnya untuk menanyakan apakah masih ada stok. "Sering para pengecer datang ke tempat kami. Namun apa boleh buat, kami juga benar-benar tidak punya stok," ujarnya.
Laila mengaku tidak pernah menyimpan gas meskipun banyak permintaan dari pembeli yang sudah memesan. "Kalau ada ya saya jual. Kalau tidak ada saya ga berani menerima uangnya dulu," ungkapnya.
Kelangkaan gas juga dikeluhkan oleh penjual dagangan keliling. Salah satu penjual pempek keliling, Amat Rosul mengatakan dirinya bahkan membeli gas hingga ke daerah kabupaten Pekalongan.
"Saya nyari 3 hari lalu sampai daerah kertijayan sana mas, di sini susah nyarinya. Gas sangat dibutuhkan pedagang, jika gas tidak ada, bagaimana saya mau jualan, minyak tanah saja sudah langka. Jangan tambah penderitaan wong cilik, kalau mau naik harga, naikkan saja. Ga usah pake acara membuat kelangkaan terlebih dahulu," ungkapnya.
PERTAMINA 50%
Sementara itu, Kasi Pengawasan, Pengadaan dan Peyaluran pada Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM), Sri Mursi Andaryatmini SIP menjelaskan kelangkaan terjadi karena Pertamina hanya memberikan jatah 50 persen dari stok yang biasanya.
Selain itu, ditemukan banyak pembeli yang berasal dari luar daerah sehingga mengindikasikan kekurangan terjadi merata di berbagai tempat. "Bahkan ada laporan yang menyatakan banyak pengecer gas elpiji 3 Kg dari Kabupaten Pekalongan dan Batang membeli di agen Kota Pekalongan," jelasnya.
Radar Pekalongan juga mendatangi Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bahan Elpiji (SPPBE) Kota Pekalongan yang terletak di Jalan Pattimura atau belakang terminal baru, saat hendak ditemui tidak ada yang memberikan konfirmasi penyebab kelangkaan ini, dengan alasan yang tidak jelas. (ap15/mg1)